Migrasi ke Antah Berantah dan Tragedi Melting Pot

Darmaji, adalah profil yang masih tersisa dari sejarah transmigrasi di Indonesia. Kini ia sudah berusia sangat udzur, diatas 70 tahun. Ia adalah bekas petugas dinas kesehatan yang berada di Kecamatan Sembakung. Hidup di desa ini sudah ia alami sejak tahun 1960an.

“Waktu itu saya naik kapal laut sampai ke Tarakan. Kita singgah dulu di Madura. Selebihnya naik perahu kayu yang ditumpangi beberapa orang dengan mendayung. Saya menginjak Tarakan sekitar tahun 1956”. Ujarnya, mengenang masa-masa sulit menuju Sembakung tempat terakhir dimana ia menggantungkan nasibnya. Nasib merantau ia harus lakoni untuk meraih hidup yang lebih baik. Ia sendiri adalah orang Jawa, keluarganya sebagian besar masih tinggal di Jawa Tengah. Mungkin, di masa itu Darmaji adalah satu-satunya yang memiliki semangat mengarungi lautan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Ia hanya berbekal informasi serba sedikit bahwa di Kalimantan Timur dibutuhkan beberapa orang untuk mengisi posisi di dinas-dinas pemerintahan.

Baca lebih lanjut

Banjir, Lanskap Wilayah dan Wisata Paska Kolonial

Sembakung, nama ini baru kukenal setelah kunjungan pertamaku di Kabupaten Tarakan, Kalimantan Timur. Sembakung adalah daerah pemukiman di sekitar sungai yang menghubungkan daerah Nunukan dan Tarakan di Propinsi Kalimantan Timur. Meskipun ia masuk sebagai daerah Kecamatan di Kabupaten Nunukan, Sembakung lebih mudah dicapai melalui Tarakan dengan menggunakan motor Boat menyusuri sungai sepanjang kurang lebih 300 Km.  Daerah ini dikelilingi sungai yang meliuk-liuk, menghubungkan satu desa dengan desa lain. Transportasi paling vital tentu  saja adalah perahu boat, dan sedikit lebih sederhana adalah perahu kayu (canoe) yang disetel dengan mesin disel berkekuatan 40-60 Pk.
Sebagai wisatawan, kesan pertama saya adalah takjub. Tentu tidak seperti ketakjuban “si Burukokok” Kabayan yang tersesat di keriuhan Metropolitan Jakarta. Sebaliknya, seperti petualangan si Kulit Putih dalam serial Indiana Jones –meskipun kukira posisi saya sebagai outsider tidak seekstrim itu. Di sela perjalanan menuju desa ini, aku menyaksikan pohon madu (kayu benggeris) berbaris tegap di sepanjang kiri-kanan sungai. Mirip lukisan naturalis Basuki Abdullah ketika menyisir kemolekan alam purba. Rumah-rumah kayu berdiri sambil menyapa ramah setiap penumpang perahu yang berjalan didepannya. Ah sudahlah, itu tidak terlalu penting karena aku tidak memiliki background kesenian. Lebih menarik bagiku, adalah suasana sosial yang kurasakan selama menjalani live in di lapangan, sebagai supervisor penelitian Yayasan Interseksi. Anak-anak kumus, bau tanah bersimpuh keringat apek mandi bersama sembari bermain-main dengan air sungai. Tidak jarang, ibu-ibu rumah tangga, sembari mencuci perabot rumah tangga, pakaian anak-anak, menggunjingkan masalah-masalah desa.  Bapak-bapak bertelanjang dada, menyusuri sungai-sungai berlumpur di sepanjang Sembakung, sebagian memancing di sore hari.
Baca lebih lanjut

Luka Ammatoa Masih Menganga

foto-kajang-6.jpg

M.Nurkhoiron
Bagi komunitas Ammatoa, firman Tuhan turun ke bumi 40 juz, bukan 30. Mereka mengalami pengucilan dan kesewenangan, mulai dicap sesat hingga diserobot tanah leluhurnya.

JIKA PERATURAN daerah (perda) syariat Islam di Bulukumba, Sulawesi Selatan, diterapkan dan dijadikan patokan, komunitas Ammatoa Kajang barangkali tak pantas disebut Islam. Orang Ammatoa tak kenal huruf Arab. Lagi pula, mereka punya paham sendiri soal kitab suci. Mereka punya Pasang Ri Kajang yang terdiri dari 10 juz.”Tuhan sesungguhnya menurunkan firman buat manusia setebal 40 juz. Yang 30 juz, al-Quran itu, ayat Tuhan buat orang lain. Sedangkan buat Ammatoa 10 juz saja, dan itu tertuang dalam kitab lontara Pasang Ri Kajang,” kata Puang Matoa, kepala komunitas di Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Orang Ammatoa betul-betul memegang teguh kitab lontara itu. Pasang ri Kajang menyimpan pesan-pesan luhur. Yakni, penduduk Tana Toa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. Orang Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal. Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.

Baca lebih lanjut

Yang Beda Yang Dibungkam

upacara gawe Beleq

Oleh.M.Nurkhoiron

Berbagai kelompok masyarakat tak mampu mengungkapkan identitas agama, etnis, dan bangsanya. Mereka dipaksa mengikuti identitas yang resmi.

Baca lebih lanjut

Benturan

diatas kapal pesiar

Oleh: M.Nurkhoiron.

Ada yang menarik disimak dalam kasus perundingan RI-GAM di Helsinki. Gerakan Aceh Merdeka rupanya tidak perlu ngotot lepas dari Indonesia untuk menjadikan Aceh Merdeka. Tuntutan kemerdekaan rupanya sudah cukup jika ide “pemerintahan sendiri” dipenuhi. Perjuangan self determination dari GAM kini tidak lagi harus mendobrak tembok NKRI, lalu menuntut pemisahan diri (secessionist). Sembari berada dalam lingkup negara Indonesia, Aceh tak harus menanggalkan semangat kebangsaannya yang khas, dan memiliki otonomi mengurus dirinya sendiri, begitu kira-kira tuntutan GAM.

Soalnya, bagaimana rumusan “pemerintahan sendiri” di Aceh kelak agar tidak menjadi konflik baru dengan kubu RI? Jelas, ini bukan pekerjaan mudah.

Sampai hari ini, ideologi NKRI masih melihat jangkar politik pusat sebagai sosok “yang maha menguasai” rakyat Indonesia. Nyaris seluruh praktik hidup kita berbangsa tak lepas dari dominasi dan hegemoni pusat ini. Atribut keindonesiaan kita tak hanya lekat dalam urusan administratif kewarganegaraan (citizenship), tapi juga asal-usul kebangsaan, keagamaan, kesukuan—semua harus berada dalam subordinasi pusat.

Padahal, bukankah Aceh sampai hari ini juga masih merasa sebagai entitas bangsa? Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.